NEW MEDIA: MAKING OR BREAKING SELF IDENTITY
Secara umum, komunikasi diartikan sebagai
pertukaran pesan baik informasi ataupun gagasan dari komunikator kepada
komunikan. Mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold
Laswell dalam bukunya yang berjudul The
Structure and Function of Communication In Society akan dijelaskan secara
detil tentang apa itu komunikasi. Laswell mengatakan bahwa cara terbaik untuk
menjelaskan komunikasi sebagai proses ialah menjawab pertanyaan sebagai
berikut: “Who Says What In Which Channel
To Whom With What Effect?”, pernyataan tersebut menyebutkan unsur-unsur
komunikasi yaitu: komunikator (communicator,
source, sender), pesan (message),
media atau saluran (channel, media),
komunikan (communicant, communicate,
receiver, recipient), efek (effect,
Impact, influence). Dengan demikian, dapat disimpulkan dari paradigma
diatas ialah, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator
kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu
Perkembangan komunikasi berkembang
begitu pesat seakan tanpa jerat. Jika dibandingkan era komunikasi jaman dahulu
dengan era komunikasi jaman sekarang membuat kita sadar betapa hebatnya
kemampuan otak manusia sehingga dapat menciptakan terobosan-terobosan canggih
untuk kita berinteraksi dengan sesama yang mungkin hanya menjadi mimpi saat itu.
Komunikasi jaman dahulu menggunakan media-media yang sangat sederhana, berawal
dari penggunaan merpati pos, kemudian muncul telegram dan layanan surat, dan
sekarang kita mengalami era dimana kutub utara dan kutub selatan seakan dapat
terhubung karena adanya layanan komunikasi paling canggih yang tidak pernah
kita bayangkan sebelumnya. Telegram yang merupakan penemuan menggemparkan saat
itu sekarang hanyalah sejarah belaka. Dalam generasi kita, posisi telegram dengan
begitu cepat tergantikan oleh televisi, radio, komputer, smartphone, dan yang pada beberapa abad terakhir ini membuat dunia
seolah tidak mempunyai sekat adalah internet.
Melakukan
komunikasi tidak pernah semudah ini sebelumnya. Sekarang kita dapat
berkomunikasi hanya dengan duduk manis di rumah, tidak seperti dulu yang harus
pergi ke kantor pos untuk mengirim surat dan sekarat menunggu pesan yang tak
kunjung dibalas. Saat ini, panggilan internasional hampir gratis, komunikasi face to face dapat dilakukan melalu video call, para pekerja dapat
bekerjasama walaupun berasal dari berbagai daerah, dan akses informasi tanpa
batas dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang lambat. Fenomena canggih
tersebut tidak lain adalah pengaruh dari adanya new media atau media baru. Salah satu teori dari Roger Fidler
menjelaskan bahwa kemunculan media baru juga dipengaruhi faktor opportunity and need, yang menjelaskan
bahwa media baru muncul bukan di sebabkan oleh kemajuan teknologi saja tetapi
juga kesempatan dan kebutuhan masyarakat akan media baru yang lebih banyak
fasilitasnya dan lebih cepat.
Maraknya jejaring sosial belakangan
ini merupakan salah satu hasil dari perkembangan media baru. Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan Line merupakan media sosial yang
memiliki fitur-fitur agar mempermudah penggunanya dalam melakukan interaksi.
Adanya fenomena media sosial ini memilik pengaruh terhadap identitas diri (self-identity) para penggunanya. Media
sosial kerap kali dijadikan sebagai ajang untuk unjuk eksistensi diri. Pada
dasarnya, setiap orang memiliki langkah-langkah khusus dalam mempresentasikan
dirinya kepada orang lain. Apalagi, jika kesempatan mempresentasikan diri ini
berada pada konteks media sosial. yang memberikan ruang begitu luas bagi setiap
individu (user) untuk berkreasi,
khususnya dalam menunjukkan identitas dirinya.
Setiap orang memiliki harapan untuk
bisa menjadi sebuah sosok impian. Sosok impian dalam konteks ini bisa saja
berdasarkan kebutuhan dirinya sendiri, karena melihat-lihat kondisi sekitarnya,
atau berdasarkan konstruksi pribadi. Berdasarkan figur impiannya tersebut,
setiap individu akan menata dirinya dengan berbagai cara baik itu dari cara
berbicara dan pemilihan kata saat seseorang menulis status di Facebook, cara berpakaian dengan memposting fotonya ke dalam akun Instagram, peralatan teknologi yang
dimiliki, teman atau kelompok yang dipilih, kegiatan yang diikuti, bahkan
hingga tempat makan/minum yang dipilih dengan cara melakukan check in menggunakan Path. Bagi seorang anak muda yang sangat
memimpikan untuk menjadi seperti sosok artis tertentu, maka dia akan menata
dirinya baik itu pakaian, kata-kata, dan berbagai elemen untuk mencapai figur
tersebut. Hal tersebut merupakan salah satu pembentukan identitas diri oleh
seorang individu yang ia bangun melalui media sosial. Dengan upaya yang
dilakukan untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya, seorang individu menggunakan
jejaraing sosial untuk mengatakan pada khalayak ramai bahwa ia merupakan satu
dari sekian banyak orang yang ingin diakui keberadaannya.
Salah satu contoh nyata bahwa media
baru dapat membentuk suatu identitas diri adalah dengan adanya komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender).
Walaupun LGBT merupakan penyakit yang sangat sulit diterima di lingkungan sosial
masyarakat Indonesia, terdapat suatu komunitas tertutup di jejaring sosial Facebook yang dibuat oleh Ardhanary Institute. Ardhanary Institude
yang berkantor di Jakarta adalah salah satu institusi kajian, advokasi,
informasi, penerbitan bagi hak-hak LGBT di Indonesia. Administator dari grup
tersebut aktif dalam penguatan identitas diri LGBT dan mendorong member yang
sudah kuat identitas dirinya untuk turut menguatkan pembentukan diri member
lain. Untuk melakukan hal tersebut ditempuh dengan cara berbagi informasi
tentang LGBT, agar LGBT paham tentang hak-hak yang dimiliki dan dapat menjawab
permasalahan terkait apa yang dialami individu tersebut dalam kehidupannya
sebagai LGBT sehingga dapat mencintai dan menerima diri sebagai LGBT. Fungsi
dari grup juga salah satunya menguatkan identitas satu sama lain sehingga dapat
menarik member yang masih dalam pencarian identitas dirinya dapat terbantu
dengan keberadaan Grup Ardhanary Institute. Walaupun komunitas inibersifat
tertutup dan menuai pro dan kontra, namun setidaknya dapat membantu mereka yang
masih mencari jati diri karena didiskriminasi oleh masyarakat.
Dan sekarang, bagaimana bisa media
baru yang dapat membentuk suatu identitas diri juga dapat merusak identitas
yang sudah ada? Apakah mayoritas orang tahu bahwa melalui media baru dapat terjadi
banyak sekali kejahatan (cybercrime)
dengan segala kecanggihannya untuk memanipulasi informasi sehingga hal yang berdasarkan
fakta dapat dikaburkan bahkan dihilangkan? Terjadinya fenomena new media menghilangkan batasan antara
komunikator dan komunikan. Pengguna new
media dapat dengan leluasa menavigasikan dirinya seperti yang di harapkan.
Seseorang dapat menutupi identitas yang sebenarnya di dunia internet, atau yang
akrab kita sebut dunia maya. Jadi identitas seseorang di dunia maya belum tentu
sesuai dengan identitasnya di kehidupan kesehariannya. Dunia maya yang
merupakan arena bebas identitas dapat menimbulkan sebuah pemalsuan identitas
diri seseorang. Sehingga kerap kali kita temui kasus-kasus penipuan mengenai
pemalsuan identitas.
Setiap fenomena pasti memiliki pro
dan kontranya masing-masing. Kita sebagai pengguna new media harus menggunakan piranti tersebut dengan bijaksana agar
kita tidak terjerumus dan terbawa arus negative dari adanya media baru
tersebut.




0 komentar:
Posting Komentar