Jumat, 18 Maret 2016

New Media: Making or Breaking Self Identity

Diposting oleh Unknown di 04.25
NEW MEDIA: MAKING OR BREAKING SELF IDENTITY
                Secara umum, komunikasi diartikan sebagai pertukaran pesan baik informasi ataupun gagasan dari komunikator kepada komunikan. Mengutip paradigma yang dikemukakan oleh Harold Laswell dalam bukunya yang berjudul The Structure and Function of Communication In Society akan dijelaskan secara detil tentang apa itu komunikasi. Laswell mengatakan bahwa cara terbaik untuk menjelaskan komunikasi sebagai proses ialah menjawab pertanyaan sebagai berikut: “Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect?”, pernyataan tersebut menyebutkan unsur-unsur komunikasi yaitu: komunikator (communicator, source, sender), pesan (message), media atau saluran (channel, media), komunikan (communicant, communicate, receiver, recipient), efek (effect, Impact, influence). Dengan demikian, dapat disimpulkan dari paradigma diatas ialah, komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu
            Perkembangan komunikasi berkembang begitu pesat seakan tanpa jerat. Jika dibandingkan era komunikasi jaman dahulu dengan era komunikasi jaman sekarang membuat kita sadar betapa hebatnya kemampuan otak manusia sehingga dapat menciptakan terobosan-terobosan canggih untuk kita berinteraksi dengan sesama yang mungkin hanya menjadi mimpi saat itu. Komunikasi jaman dahulu menggunakan media-media yang sangat sederhana, berawal dari penggunaan merpati pos, kemudian muncul telegram dan layanan surat, dan sekarang kita mengalami era dimana kutub utara dan kutub selatan seakan dapat terhubung karena adanya layanan komunikasi paling canggih yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Telegram yang merupakan penemuan menggemparkan saat itu sekarang hanyalah sejarah belaka. Dalam generasi kita, posisi telegram dengan begitu cepat tergantikan oleh televisi, radio, komputer, smartphone, dan yang pada beberapa abad terakhir ini membuat dunia seolah tidak mempunyai sekat adalah internet.
            Melakukan komunikasi tidak pernah semudah ini sebelumnya. Sekarang kita dapat berkomunikasi hanya dengan duduk manis di rumah, tidak seperti dulu yang harus pergi ke kantor pos untuk mengirim surat dan sekarat menunggu pesan yang tak kunjung dibalas. Saat ini, panggilan internasional hampir gratis, komunikasi face to face dapat dilakukan melalu video call, para pekerja dapat bekerjasama walaupun berasal dari berbagai daerah, dan akses informasi tanpa batas dengan kecepatan yang tidak bisa dibilang lambat. Fenomena canggih tersebut tidak lain adalah pengaruh dari adanya new media atau media baru. Salah satu teori dari Roger Fidler menjelaskan bahwa kemunculan media baru juga dipengaruhi faktor opportunity and need, yang menjelaskan bahwa media baru muncul bukan di sebabkan oleh kemajuan teknologi saja tetapi juga kesempatan dan kebutuhan masyarakat akan media baru yang lebih banyak fasilitasnya dan lebih cepat.
            Maraknya jejaring sosial belakangan ini merupakan salah satu hasil dari perkembangan media baru. Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan Line merupakan media sosial yang memiliki fitur-fitur agar mempermudah penggunanya dalam melakukan interaksi. Adanya fenomena media sosial ini memilik pengaruh terhadap identitas diri (self-identity) para penggunanya. Media sosial kerap kali dijadikan sebagai ajang untuk unjuk eksistensi diri. Pada dasarnya, setiap orang memiliki langkah-langkah khusus dalam mempresentasikan dirinya kepada orang lain. Apalagi, jika kesempatan mempresentasikan diri ini berada pada konteks media sosial. yang memberikan ruang begitu luas bagi setiap individu (user) untuk berkreasi, khususnya dalam menunjukkan identitas dirinya.
            Setiap orang memiliki harapan untuk bisa menjadi sebuah sosok impian. Sosok impian dalam konteks ini bisa saja berdasarkan kebutuhan dirinya sendiri, karena melihat-lihat kondisi sekitarnya, atau berdasarkan konstruksi pribadi. Berdasarkan figur impiannya tersebut, setiap individu akan menata dirinya dengan berbagai cara baik itu dari cara berbicara dan pemilihan kata saat seseorang menulis status di Facebook, cara berpakaian dengan memposting fotonya ke dalam akun Instagram, peralatan teknologi yang dimiliki, teman atau kelompok yang dipilih, kegiatan yang diikuti, bahkan hingga tempat makan/minum yang dipilih dengan cara melakukan check in menggunakan Path. Bagi seorang anak muda yang sangat memimpikan untuk menjadi seperti sosok artis tertentu, maka dia akan menata dirinya baik itu pakaian, kata-kata, dan berbagai elemen untuk mencapai figur tersebut. Hal tersebut merupakan salah satu pembentukan identitas diri oleh seorang individu yang ia bangun melalui media sosial. Dengan upaya yang dilakukan untuk menunjukkan siapa dia sebenarnya, seorang individu menggunakan jejaraing sosial untuk mengatakan pada khalayak ramai bahwa ia merupakan satu dari sekian banyak orang yang ingin diakui keberadaannya.
            Salah satu contoh nyata bahwa media baru dapat membentuk suatu identitas diri adalah dengan adanya komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, dan Transgender). Walaupun LGBT merupakan penyakit yang sangat sulit diterima di lingkungan sosial masyarakat Indonesia, terdapat suatu komunitas tertutup di jejaring sosial Facebook yang dibuat oleh Ardhanary Institute. Ardhanary Institude yang berkantor di Jakarta adalah salah satu institusi kajian, advokasi, informasi, penerbitan bagi hak-hak LGBT di Indonesia. Administator dari grup tersebut aktif dalam penguatan identitas diri LGBT dan mendorong member yang sudah kuat identitas dirinya untuk turut menguatkan pembentukan diri member lain. Untuk melakukan hal tersebut ditempuh dengan cara berbagi informasi tentang LGBT, agar LGBT paham tentang hak-hak yang dimiliki dan dapat menjawab permasalahan terkait apa yang dialami individu tersebut dalam kehidupannya sebagai LGBT sehingga dapat mencintai dan menerima diri sebagai LGBT. Fungsi dari grup juga salah satunya menguatkan identitas satu sama lain sehingga dapat menarik member yang masih dalam pencarian identitas dirinya dapat terbantu dengan keberadaan Grup Ardhanary Institute. Walaupun komunitas inibersifat tertutup dan menuai pro dan kontra, namun setidaknya dapat membantu mereka yang masih mencari jati diri karena didiskriminasi oleh masyarakat.
            Dan sekarang, bagaimana bisa media baru yang dapat membentuk suatu identitas diri juga dapat merusak identitas yang sudah ada? Apakah mayoritas orang tahu bahwa melalui media baru dapat terjadi banyak sekali kejahatan (cybercrime) dengan segala kecanggihannya untuk memanipulasi informasi sehingga hal yang berdasarkan fakta dapat dikaburkan bahkan dihilangkan? Terjadinya fenomena new media menghilangkan batasan antara komunikator dan komunikan. Pengguna new media dapat dengan leluasa menavigasikan dirinya seperti yang di harapkan. Seseorang dapat menutupi identitas yang sebenarnya di dunia internet, atau yang akrab kita sebut dunia maya. Jadi identitas seseorang di dunia maya belum tentu sesuai dengan identitasnya di kehidupan kesehariannya. Dunia maya yang merupakan arena bebas identitas dapat menimbulkan sebuah pemalsuan identitas diri seseorang. Sehingga kerap kali kita temui kasus-kasus penipuan mengenai pemalsuan identitas.

            Setiap fenomena pasti memiliki pro dan kontranya masing-masing. Kita sebagai pengguna new media harus menggunakan piranti tersebut dengan bijaksana agar kita tidak terjerumus dan terbawa arus negative dari adanya media baru tersebut.

0 komentar:

Posting Komentar

 

' Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea