KESENJANGAN DIGITAL DI TANAH AIR
Berbicara mengenai perkembangan media
baru atau 'new media' , kita akan cenderung menyinggung pada
konteks penggunaan atau akses terhadap internet. Walaupun kurang tepat apabila
media baru diartikan hanya sebatas munculnya internet, namun tidak dapat
dipungkiri bahwa kehadiran internet pada penghujung abad-21 pada kenyataannya
telah membawa angin segar bagi kehidupan berkomunikasi, sehingga tak lengkap
rasanya apabila kehadiran teknologi-teknologi canggih tidak dilengkapi dengan
adanya koneksi internet. Namun, yang harus diingat bahwa penggunaan internet
tentunya memiliki dampak positif dan negative, serta perspektif optimis dan pesimis.
Bahkan internet sendiri dapat menjadi boomerang bagi para penggunanya apabila
tidak digunakan secara bijak.
Internet hadir dengan membawa
segudang manfaat positif yang seakan
mampu menjawab segala kekurangan dari media-media yang ada sebelumnya.
Internet menjadi solusi cerdas yang memungkinkan hampir semua orang dari belahan
dunia manapun memiliki kesempatan untuk dapat saling berkomunikasi dengan cepat
dan mudah tanpa dibatasi ruang dan waktu. Jika sebelumnya, setiap hari kita
harus membeli koran dan menonton acara televisi tertentu pada jam tayang yang
sudah ditentukan, maka tidak demikian halnya ketika internet muncul. Sebab
Internet adalah media yang cukup unik yang mampu mengintegrasikan media-media
komunikasi yang berbeda sehingga ia dapat mengatasi banyak masalah dalam media
komunikasi sebelumnya seperti interaksi timbal balik, penyiaran, hambatan waktu
dan jarak, pencarian referensi-individu, diskusi kelompok dan juga tersedianya
berbagai jenis konten (teks, video, visual maupun audio) dalam satu media tunggal.
Pada dasarnya, internet
diciptakan bagi kepentingan seluruh umat di dunia. Setiap orang memiliki
kesempatan yang sama untuk mengakses internet kapanpun dan dimanapun. Namun
pada kenyataannya, kelompok-kelompok yang dapat mengakses internet hanyalah
kelompok yang mampu dan memang benar-benar mau untuk memanfaatkan kesempatan tersebut.
Seseorang mendapatkan akses yang lebih terhadap internet berdasarkan pendapatan
yang lebih tinggi, tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan lebih
berpengalaman, ras kulit putih, serta identitas gender sebagai pria (Howard et
al., 2002). Namun penelitian Howard dan rekan-rekannya itu berlaku untuk
konteks Amerika. Lalu bagaimana wujud kesenjangan digital terhadap akses
internet di Indonesia?
Perkembangan internet yang
fenomenal terlihat dari peningkatan jumlah penggunanya selama bebarapa tahun
terakhir. Seperti yang dilansir oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika
(Aptika) Kementerian Kominfo, Septriana Tangkary, pengguna internet di
Indonesia hingga tahun 2014 telah mencapai 82 juta orang. Dari jumlah pengguna
internet tersebut, 80% di antaranya adalah remaja berusia 15-19 tahun, dimana
akses internet lebih ditekankan pada penggunaan media sosial. Untuk pengguna Facebook, Indonesia di peringkat ke-4
besar dunia Dengan capaian tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-8 sebagai
kategori pengguna internet terbanyak di dunia. Namun, apakah akses internet di
Indonesia sudah tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia untuk segala
kalangan? Jawaban pastinya adalah belum. Bahkan untuk negara paling maju sekalipun,
akses internet akan sulit diratakan ke seluruh wilayah negara. Hal tersebut
yang biasanya diartikan sebagai kesenjangan digital.
Hargittai (2003), secara lebih
khusus mendefenisikan kesenjangan digital sebagai “kesenjangan antara mereka yang memiliki akses ke
teknologi (internet) dan mereka yang tidak.”
Karenanya, kesenjangan dalam hal ini berpotensi melahirkan persoalan
kesenjangan baru dalam masyarakat atau memperparah persoalan kesenjangan yang
memang sudah ada, terutama di negara berkembang atau kelompok masyarakat/
daerah yang relatif tertinggal. Digital divide atau senjang digital mengacu
pada kesenjangan atau jurang yang menganga di antara mereka yang dapat
mengakses teknologi informasi (TI) dan mereka yang tidak dapat melakukannya. Dengan
demikian, kesenjangan tersebut ditakutkan dapat menyebabkan ketimpangan
informasi yang pada akhirnya juga dapat menimbulkan ketimpangan sosial.
Kesenjangan ini bisa berupa
kesenjangan yang bersifat fisik (tidak mempunyai akses terhadap komputer dan
perangkat TI lainnya) atau yang bersifat keterampilan yang diperlukan untuk
dapat berperan serta sebagai warga digital. Jika pembagian mengarah ke
kelompok, maka senjang digital dapat dikaitkan dengan perbedaan sosial-ekonomi
(kaya/miskin), usia (tua/muda), atau geografis (perkotaan/pedesaan). Beberapa peneliti
berpendapat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah karena
perbedaan tingkat pendapatan (ekonomi), perbedaan tingkat pendidikan dan juga
ketersediaan jaringan karena perbedaan wilayah, jenis kelamin, ras, penghasilan
dan pendidikan dan juga variabel-variable lainnya (Paul Dimaggio dkk, 2001).
Namun dari hasil riset membuktikan sebagian besar perbedaan ini mungkin
dikarenakan oleh perbedaan penghasilan dan tingkat pengetahuan.
Salah satu masalah yang dihadapi
masyarakat saat ini adalah kenyataan bahwa kayanya manfaat internet mungkin
tidak tersedia secara merata untuk semua orang. Namun sebelum kita membahas
jauh tentang ketimpangan/gap dalam akses internet tersebut, agaknya perlu kita
pahami bersama bahwa ketimpangan akses internet itu sendiri meliputi lebih dari
satu dimensi. Sebagaimana Paul Dimaggio (2001) juga menyebutkan bahwa ketika
kita berbicara tentang ketidaksetaraan dalam akses ke Internet, maka kita
sedang mengacu pada tingkat penggunaan, pengetahuan strategi pencarian, kualitas
koneksi teknis dan dukungan sosial serta kemampuan untuk mengevaluasi kualitas
informasi, dan keragaman kegunaan internet.
Di Indonesia sendiri, adanya
jaringan internet tidak dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Hanya masyarakat
yang mampu saja yang dapat mengakses internet, dan kemudahan untuk mengkses
internet juga dapat dirasakan di kota-kota besar. Menurut informasi yang
dikutip dari Net Index, kota Bandung,
Surabaya, Jakarta, Bekasi, dan Tangerang adalah lima dari ratusan kota di
Indonesia yang memiliki akses internet tercepat di Indonesia. Namun, bagaimana
dengan nasib kota-kota yang berada di pelosok negeri yang bahkan jarak tempuh
untuk mencapainya saja sangat jauh? Wilayah dan masyarakat yang masih sulit
untuk dijangkau menyebabkan pemerataan akses internet menjadi terhambat. Memang
tidak semua kalangan masyarakat membutuhkan akses terhadap internet, namun
dapat diyakini bahwa di era teknologi yang canggih ini masyarakat yang tinggal
di pelosok juga membutuhkan internet untuk kepentingan pekerjaannya.
Daftar Pustaka
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of
New Media: Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication
Ltd. London. Chapter 4: Perspective on Internet User: Access, Involvement an
Interaction.
http://googleweblight.com/?lite_url=http://communicationforbetterlife.blogspot.com/2013/07/internet-social-inequality.html?m%3D1&ei=glNe8rU4&lc=id-ID&s=1&m=72&host=www.google.co.id&ts=1458889195&sig=APY536xqK12DthGSXEbgsvuJ8-FtVFxjvw
diakses pada Jumat, 25 Maret 2016 pukul 16.22 WIB




0 komentar:
Posting Komentar