Jumat, 25 Maret 2016

KESENJANGAN DIGITAL DI TANAH AIR

Diposting oleh Unknown di 02.48
KESENJANGAN DIGITAL DI TANAH AIR

Berbicara mengenai perkembangan media baru atau 'new  media' , kita akan cenderung menyinggung pada konteks penggunaan atau akses terhadap internet. Walaupun kurang tepat apabila media baru diartikan hanya sebatas munculnya internet, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran internet pada penghujung abad-21 pada kenyataannya telah membawa angin segar bagi kehidupan berkomunikasi, sehingga tak lengkap rasanya apabila kehadiran teknologi-teknologi canggih tidak dilengkapi dengan adanya koneksi internet. Namun, yang harus diingat bahwa penggunaan internet tentunya memiliki dampak positif dan negative, serta perspektif optimis dan pesimis. Bahkan internet sendiri dapat menjadi boomerang bagi para penggunanya apabila tidak digunakan secara bijak.
Internet hadir dengan membawa segudang manfaat positif yang seakan  mampu menjawab segala kekurangan dari media-media yang ada sebelumnya. Internet menjadi solusi cerdas yang memungkinkan hampir semua orang dari belahan dunia manapun memiliki kesempatan untuk dapat saling berkomunikasi dengan cepat dan mudah tanpa dibatasi ruang dan waktu. Jika sebelumnya, setiap hari kita harus membeli koran dan menonton acara televisi tertentu pada jam tayang yang sudah ditentukan, maka tidak demikian halnya ketika internet muncul. Sebab Internet adalah media yang cukup unik yang mampu mengintegrasikan media-media komunikasi yang berbeda sehingga ia dapat mengatasi banyak masalah dalam media komunikasi sebelumnya seperti interaksi timbal balik, penyiaran, hambatan waktu dan jarak, pencarian referensi-individu, diskusi kelompok dan juga tersedianya berbagai jenis konten (teks, video, visual maupun  audio) dalam satu media tunggal.
Pada dasarnya, internet diciptakan bagi kepentingan seluruh umat di dunia. Setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses internet kapanpun dan dimanapun. Namun pada kenyataannya, kelompok-kelompok yang dapat mengakses internet hanyalah kelompok yang mampu dan memang benar-benar mau untuk memanfaatkan kesempatan tersebut. Seseorang mendapatkan akses yang lebih terhadap internet berdasarkan pendapatan yang lebih tinggi, tingkat pendidikan yang lebih tinggi dan lebih berpengalaman, ras kulit putih, serta identitas gender sebagai pria (Howard et al., 2002). Namun penelitian Howard dan rekan-rekannya itu berlaku untuk konteks Amerika. Lalu bagaimana wujud kesenjangan digital terhadap akses internet di Indonesia?
Perkembangan internet yang fenomenal terlihat dari peningkatan jumlah penggunanya selama bebarapa tahun terakhir. Seperti yang dilansir oleh Direktorat Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Kementerian Kominfo, Septriana Tangkary, pengguna internet di Indonesia hingga tahun 2014 telah mencapai 82 juta orang. Dari jumlah pengguna internet tersebut, 80% di antaranya adalah remaja berusia 15-19 tahun, dimana akses internet lebih ditekankan pada penggunaan media sosial. Untuk pengguna Facebook, Indonesia di peringkat ke-4 besar dunia Dengan capaian tersebut, Indonesia berada pada peringkat ke-8 sebagai kategori pengguna internet terbanyak di dunia. Namun, apakah akses internet di Indonesia sudah tersebar merata di seluruh wilayah Indonesia untuk segala kalangan? Jawaban pastinya adalah belum. Bahkan untuk negara paling maju sekalipun, akses internet akan sulit diratakan ke seluruh wilayah negara. Hal tersebut yang biasanya diartikan sebagai kesenjangan digital.
Hargittai (2003), secara lebih khusus mendefenisikan kesenjangan digital sebagai kesenjangan antara mereka yang memiliki akses ke teknologi (internet) dan mereka yang tidak. Karenanya, kesenjangan dalam hal ini berpotensi melahirkan persoalan kesenjangan baru dalam masyarakat atau memperparah persoalan kesenjangan yang memang sudah ada, terutama di negara berkembang atau kelompok masyarakat/ daerah yang relatif tertinggal. Digital divide atau senjang digital mengacu pada kesenjangan atau jurang yang menganga di antara mereka yang dapat mengakses teknologi informasi (TI) dan mereka yang tidak dapat melakukannya. Dengan demikian, kesenjangan tersebut ditakutkan dapat menyebabkan ketimpangan informasi yang pada akhirnya juga dapat menimbulkan ketimpangan sosial.
Kesenjangan ini bisa berupa kesenjangan yang bersifat fisik (tidak mempunyai akses terhadap komputer dan perangkat TI lainnya) atau yang bersifat keterampilan yang diperlukan untuk dapat berperan serta sebagai warga digital. Jika pembagian mengarah ke kelompok, maka senjang digital dapat dikaitkan dengan perbedaan sosial-ekonomi (kaya/miskin), usia (tua/muda), atau geografis (perkotaan/pedesaan). Beberapa peneliti berpendapat bahwa faktor-faktor yang menyebabkan hal ini terjadi adalah karena perbedaan tingkat pendapatan (ekonomi), perbedaan tingkat pendidikan dan juga ketersediaan jaringan karena perbedaan wilayah, jenis kelamin, ras, penghasilan dan pendidikan dan juga variabel-variable lainnya (Paul Dimaggio dkk, 2001). Namun dari hasil riset membuktikan sebagian besar perbedaan ini mungkin dikarenakan oleh perbedaan penghasilan dan tingkat pengetahuan.
Salah satu masalah yang dihadapi masyarakat saat ini adalah kenyataan bahwa kayanya manfaat internet mungkin tidak tersedia secara merata untuk semua orang. Namun sebelum kita membahas jauh tentang ketimpangan/gap dalam akses internet tersebut, agaknya perlu kita pahami bersama bahwa ketimpangan akses internet itu sendiri meliputi lebih dari satu dimensi. Sebagaimana Paul Dimaggio (2001) juga menyebutkan bahwa ketika kita berbicara tentang ketidaksetaraan dalam akses ke Internet, maka kita sedang mengacu pada tingkat penggunaan, pengetahuan strategi pencarian, kualitas koneksi teknis dan dukungan sosial serta kemampuan untuk mengevaluasi kualitas informasi, dan keragaman kegunaan internet.
Di Indonesia sendiri, adanya jaringan internet tidak dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat. Hanya masyarakat yang mampu saja yang dapat mengakses internet, dan kemudahan untuk mengkses internet juga dapat dirasakan di kota-kota besar. Menurut informasi yang dikutip dari Net Index, kota Bandung, Surabaya, Jakarta, Bekasi, dan Tangerang adalah lima dari ratusan kota di Indonesia yang memiliki akses internet tercepat di Indonesia. Namun, bagaimana dengan nasib kota-kota yang berada di pelosok negeri yang bahkan jarak tempuh untuk mencapainya saja sangat jauh? Wilayah dan masyarakat yang masih sulit untuk dijangkau menyebabkan pemerataan akses internet menjadi terhambat. Memang tidak semua kalangan masyarakat membutuhkan akses terhadap internet, namun dapat diyakini bahwa di era teknologi yang canggih ini masyarakat yang tinggal di pelosok juga membutuhkan internet untuk kepentingan pekerjaannya.  

Daftar Pustaka
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication Ltd. London. Chapter 4: Perspective on Internet User: Access, Involvement an Interaction.


http://googleweblight.com/?lite_url=http://communicationforbetterlife.blogspot.com/2013/07/internet-social-inequality.html?m%3D1&ei=glNe8rU4&lc=id-ID&s=1&m=72&host=www.google.co.id&ts=1458889195&sig=APY536xqK12DthGSXEbgsvuJ8-FtVFxjvw diakses pada Jumat, 25 Maret 2016 pukul 16.22 WIB

0 komentar:

Posting Komentar

 

' Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea